LOGIN ADMIN DINAS / OPERATOR
FOTO KEPALA DINAS

Drs. MELFI, M.Si
NIP. 196605061986021005

Husin Orang Minang Jualan di Jeddah
Ditulis oleh : Super Administrator - Bidang :

21 April 2017 - 09:41:14 WIB

“Silahkan masuk, ayo boleh lihat. Tidak mandi cuci muka, tidak membeli melihat saja”. Itulah kalimat yang sering diucapkan Husin (57 tahun) salah seorang penjual pakaian  di pasar Qarnis Jeddah lama menyapa jemaah umrah asal  Indonesia.

Jemaah umrah dari Indonesia sebelum  kembali ke tanah air, pasti singgah di pasar Qarnis Jeddah. Semua toko yang ada di sini bertuliskan bahasa Indonesia seperti Toko Ali Murah dan sejumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) berjejer di hadapan toko tersebut menjajakan dagangannya untuk oleh-oleh juga menyapa dengan bahasa Indonesia. Sangat berbeda sekali ketika berbelanja di Makkah atau Madinah.

Salah seorang petugas toko yang ramah kepada pengunjung bernama Husin. Kepada Wartawan Koran Padang Almuafri Surau yang berangkat bersama Raka Tour dan Travel Bukittinggi,  Ia mengaku berasal dari Rao Mapattunggul Kabupaten Pasaman Sumatera Barat.

Sejak usia remaja, ia pergi merantau naik kapal. Tujuan utamanya adalah negara Eropa. Di atas kapal, Husin diajak seseorang untuk bekerja di Jeddah. Itulah yang ia lakoni sampai sekarang bekerja pada sebuah toko pakaian di Jeddah. Toko, tempai ia bekerja bersebelahan dengan Rumah Makan Solo tempat jemaah Raka dan Tour Travel untuk menikmati makan siang.

Usai melaksanakan tawaf wada’ dan selesailah  ibadah umrah, jemaah sebelum sampai di bandara King Abdul Aziz mampir dulu di pasar Qarnis Jeddah untuk berbelanja membeli oleh-oleh. Di sini umumnya orang Indonesia yang berjualan termasuk salah seorang orang Minang bernama Husin yang ramah kepada pengunjung.

“Saya sejak kecil, ceritanya  sudah bercita-cita untuk merantau. Keinginan saya pertama adalah ke benua Eropa. Tetapi akhirnya terdampar di Kota Jeddah ini. Sudah 37 tahun ia tinggal di Jeddah bersama anak dan isterinya. Awalnya, ia juga tidak bisa berbahasa Arab, tetapi karena sudah lama tinggal di sini akhirnya dapat juga menguasai bahasa Arab sebagai alat komunikasi.

Kata Husin, yang perlu di rantau orang disamping mau bekerja keras tetapi juga harus punya integritas/kejujuran. Kejujuran amat perlu sehingga mendapat kepercayaan dari pemilik modal. Di sini hukumnya sangat tegas, siapa yang melakukan pelanggaran akan dihukum sesuai dengan  ajaran Islam.

Jadi, kota Jeddah terbilang sangat aman karena semua orang di sini sudah terbiasa dengan kehidupan yang diajarkan Rasulullah.

Usai makan siang di Rumah Makan Solo Jeddah. Selanjutnya jemaah segera bertolak menuju Masjid Terapung untuk melaksanakan sholat Zuhur dan Jama’ Ashar. Di lokasi Masjid yang berada di atas laut merah itu, banyak juga pada pedagang kaki lima menjajakan dagangannya. Jemaah yang masih memiliki riyal biasanya menghabiskannya di sini karena  beberapa saat lagi akan sampai di Bandara Internasional King Abdul Aziz untuk chek in.

Pimpinan rombongan Buya H.Guslizar Gazahar telah mengingatkan jemaah  barang masuk bagasi tidak melebihi peraturan penerbangan internasional hanya  30 kilogram beratnya.  Pengawasan terhadap barang bawaan sangat ketat, jangan coba-coba melanggar ketentuan”, begitu Buya Guslizar mengingatkan jemaah agar patuh kepada ketentuan yang berlaku di Jeddah.

Buya Gusrizal Gazahar yang juga Ketua MUI Sumbar itu berpesan untuk calon jemaah umrah dan haji yang akan berangkat ke tanah suci Makkah Al Mukarramah luruskan niat, hanya untuk beribadah karena memenuhi panggilan Allah. Berikutnya patuh kepada pimpinan/ketua rombongan, jangan sekali-kali  takabur alias sombong, Allah akan sangat marah.

Hindari pembicaraan yang berlebihan tentang kehidupan dunia. Banyaklah membaca al quran dan zikir kepada Allah. Soal makanan pasti tidak cocok dengan selera orang Indonesia apalagi orang Bukittinggi. Untuk itu, dari tanah air berdoalah kepada Allah agar makanan yang disediakan cocok saja dengan selera dan enak. Sekali mengatakan makanan tidak “lamak” selamanya akan tetap tidak “lamak” sehingga dapat menyebabkan kita sakit.

Begitu juga udara/suhu, berdoalah  kepada Allah dari tanah air agar suhu  di Makkah cocok saja dan dapat datang ke Masjid untuk beribadah. Betapa banyak jemaah tidak dapat melaksanakan ibadah sholat wajib  di Masjidil Haram karena alasan suhu yang panas atau terlalu dingin. Berdoalah kepada Allah agar suhu selama di Makkah/Madinah cocok dengan keadaan tubuh kita.

Ibadah umrah/haji  tidak saja merupakan ibadah bathiniah tetapi ibadah jasmaniah. Kesehatan amat penting untuk menjalankan ibadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Banyak jemaah yang hanya tidur saja di hotel karena sakit yang diderita dan tak dapat beribadah seperti jemaah lain. Di Makkah sehat  itu mahal. Oleh sebab itu, berusahalah agar tetap sehat dan berdoa kepada Allah yang memberi kesehatan. (als)

 

JAJAK PENDAPAT
Bagaimana pendapat anda tentang Kurikulum 2013?
Sangat Bagus
Bagus
Cukup Bagus
Buruk
Sangat Buruk

HASIL POLLING
AGENDA DINAS TERBARU
STATISTIK PENGUNJUNG
  • Browser :
  • OS : Unknown Platform
  • Dikunjungi sebanyak : 131923 kali